Google Adsense, SIO, ACM, Cobit, ISO dan IPv6


Dalam kuliah hari sabtu 27 Oktober 2007, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan tugasnya. Ada 4 kelompok, Kelompok yang pertama maju mempresentasikan Google Adsense. Dalam presentasinya kelompok yang pertama memulai dari penjelasan Apa itu Google Adsense. Google Adsense adalah sebuah layanan iklan yang dimiliki oleh Google. Dimana pemilik situs dapat memperoleh penghasilan tambahan dari iklan-iklan yang dipasang. Iklan tersebut dapat berupa teks, gambar dan juga video, tetapi tetap dalam bentuk kontekstual, dimana setiap iklan yang dipasang relevan/sesuai dengan isi dari situsnya.

Bagaimana potensi penghasilannya? Sangat tidak terbatas, banyak pemilik-pemilik situs yang telah memasang iklannya memperoleh ribuan bahkan jutaan dolar. Di Indonesia juga bukan hal yang aneh kalau beberapa pemilik situs telah mendapatkan ribuan dolar.

Meskipun potensi penghasilannya sangat besar, tetapi bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya. Hal ini terkait dengan budaya mental manusia Indonesia (walaupun belum terbukti secara ilmiah) yaitu 2 SMOS. SMOS yang pertama adalah Senang Melihat Orang Susah, sedangkan SMOS yang kedua adalah Susah Melihat Orang Senang.

Jadi kalau ada kawan kita yang memiliki situs kemudian ada iklan adsense nya, hampir dipastikan kita tidak akan mau mengklik iklan itu, karena kita akan berpikir ‘kok saya yang mengklik, dia yang mendapatkan uangnya…”.

Faktor kedua yang membuat perkara mendapatkan google adsense menjadi mudah adalah ‘trust’. Bisnis di Internet merupakan bisnis yang mengandalkan kepercayaan, karena antar pengguna belum tentu saling mengenal. Oleh karena itu pemilik situs mengandalkan 100% kepercayaan kepada google untuk berlaku fair, mengingat aturan-aturan main yang ditetapkan oleh google sangat banyak dan ketat.

Sebagai contoh, salah satu aturan main adalah pemilik situs di larang mengklik sendiri iklan adsense yang ada di situsnya. Sebagai sangsinya adalah pemutusan sepihak oleh google seandainya terbukti melanggar. Karena kerjasama bisnis ini 100% persen kepercayaan, maka dapat saja pihak google tidak tepat menilai sumber klik tersebut. Kenyataannya klik tersebut bukan dari pemilik tetapi karena dinilai oleh google berasal dari wilayah pemilik situs maka dianggap klik tersebut ilegal sehingga situs tersebut kemudian diputuskan secara sepihak oleh google.

Masih terkait dengan presentasi kelompok yang pertama, presentasi kelompok kedua adalah SIO (Search Information Optimalisation), yaitu teknik-teknik mengoptimalkan Informasi melalui search engine seperti google, yahoo, altavista, catcha dan lain-lain.

Salah satu teknik yang disampaikan adalah teknik meninggalkan alamat situs kita pada situs-situs yang kita kunjungi. Kelihatannya hal yang mudah, tetapi berdampak cukup luas. Sebagai contoh, jika kita mengunjungi situs-situs menarik yang banyak dikunjungi oleh orang, kemudian dalam situs tersebut tersedia buku tamu atau forum maka segeralah mengisi buku tamu atau forum tersebut, kemudian tinggalkan alamat situs kita pada buku tamu atau forum yang kita isi. Secara tidak langsung kita akan meninggalkan sesuatu yang kelak berguna jika orang membaca atau terdeteksi oleh search engine.

Teknik lain yang disampaikan adalah dengan meningkatkan kemampuan kita, teknik ini dipakai jika kita seorang profesional di bidangnya yang berkeinginan untuk mempromosikan skill atau kemampuan kita melalui situs. Dengan meningkatnya kemampuan kita secara tidak langsung kita akan menjadi semakin di kenal orang, pada saat berkenalan atau pada saat mengisi seminar juga pelatihan, kita dapat menyampaikan alamat situs kita kepada peserta.

Presentasi selanjutnya adalah tentang ACM, Cobit dan ISO. ACM, Cobit dan ISO yang dipresentasikan yang menyangkut standarisasi dalam penilaian terhadap produk atau implementasi dari sebuah sistem informasi. Tujuan dari ACM, Cobit dan ISO secara umum sama yaitu menilai apakah suatu sistem informasi yang diimplementasikan pada satu tempat berhasil atau tidak. Perbedaan ketiganya pada sudut pandang dan item-item/komponen-komponen yang di nilai.

Sebagai contoh, komponen yang dimiliki oleh COBIT dalam menilai implementasi sistem informasi ada 5 yaitu Perencanaa dan Organisasi, Acquatition dan impementation, Delivery dan Support, Monitoring dan Information.

Presentasi yang terakhir adalah IPv6 yaitu IP Versi 6. Dalam presentasinya, kelompok yang terakhir memberikan gambaran secara grafik negara-negara yang sudah memanfaatkan IPv6 yang sebagian besar di dominasi oleh negara Eropa, sedangkan penggunaan dan pemanfaatan IPv6 di Indonesia masih sangat kecil sehingga belum dapat di gambarkan dalam grafik tersebut.

Hal ini disebabkan biaya untuk pemasangan alat penterjemah yang berbentuk router untuk menghubungkan pengguna IPv6 dengan IPv4 sehingga dapat saling berkomunikasi masih cukup mahal untuk ukuran masyarakat Indonesia.

Kelompok ini juga menekankan pentinggnya penggunaan dan pemanfaatan IPv6 disamping memang untuk mengantisipasi terbatasnya ketersediaan IP Publik juga untuk memudahkan mengidentifikasi lokasi sebuah IP sehingga memperkecil kesempatan/peluang untuk melakukan kejahatan melalui dunia maya/internet.

Sebagai penutup, kelompok yang terakhir juga mempresentasikan peralatan-peratan mobile computing yang kelak dapat diberikan IP Pubik seandainya IPv6 diimplementasikan.

Teknik Site Survey dan Mengatasi Interferensi


Site Survey adalah teknik mengsurvei kondisi sebuah tempat untuk menyiapkan sebuah site untuk instalasi peralatan radio. Salah satu dokumentasi yang baik tentang prosedur site survey dapat dilihat dari Waverider Site Survey Guide, Waverider Document No. 9902/VAR002 tertanggal 29 Desember 1998. Waverider http://www.waverider.com adalah sebuah perusahaan yang berbasis di Toronto Canada.

Peralatan untuk Melakukan Site Survey

Daftar peralatan yang perlu dibawa untuk Site Survey adalah :

1. Spectrum Analyzer (3GHz), jika ada. Spectrum Analyzer adalah sebuah peralatan yang paling membantu seorang surveyor untuk melihat kondisi lapangan. Sayangnya, sebuah spectrum analyzer yang baik harganya sangat mahal dan kemungkinan tidak akan terjangkau bagi kita yang berada di negara berkembang. Untuk solusi yang terjangkau, mungkin menggunakan card Teletronics dengan software-nya yang cukup baik digunakan sebagai spectrum analyzer di frekuensi 2.4GHz. Harga card sekitar US$100 dengan sebuah pigtail yang disambungkan ke antena eksternal. Banyak wireless ISP komersial menggunakan ini untuk alat site survey mereka.

2. Laptop dengan PCMCI WLAN card adalah solusi paling murah yang mungkin paling terjangkau untuk negara berkembang. Beberapa tool untuk melakukan survey di PC telah tersedia di internet.

3. Beberapa WLAN Access Point mempunyai kemampuan melakukan site survey jika diset pada mode client. Mode ini sangat bermanfaat dalam mengarahkan antena, dll.

4. Sekumpulan antena eksternal, omnidirectional antena dan directional antena termasuk pigtail dan berbagai konektor.

5. Senter yang kuat, Strobe Light, Flashflight, Cermin, Kekeran/teropong atau Telescope. Sangat baik mengevaluasi kondsi Optical Line Of Sight antar dua titik.

6. Meteran, minimum 10m.

7. Peta topography skala 1:50,000 atau yang lebih baik lagi. Mungkin kita akan memperoleh kesulitan memperoleh peta topography yang akurat dan up-to-date. Untuk sambungan-sambungan jarak pendek s/d 5-8 km kadang kala kita tidak memerlukan peta topography tersebut.

8. Hand-held GPS atau kompas. GPS adalah alat yang paling berharga pada saat melalukan site survey. Perlu di sadari, GPS memerlukan kondisi cuaca cerah, tidak ada halangan di atas kita dan waktu lama untuk memperoleh ketelitian yang maksimum.

9. Altimeter atau pengukur ketinggian. Hal ini kadang-kadang tidak diperlukan jika kita menggunakan GPS yang baik, seperti GARMIN eTrex Vista.

10. Safety hat.

11. Tangga.

Beberapa Pertanyaan pada Saat Site Survey

1. Koordinat geografis dari tempat antena?
GPS sangat bermanfaat untuk menentukan koordinat site termasuk menentukan jarak antar kedua tempat. Akan tetapi untuk jarak yang sangat pendek, biasanya dapat di estimasi tanpa menggunakan GPS.

2. Apakah antar antena sudah Line Of Sight?
Kita harus dapat memastikan bahwa tidak ada penghalang, termasuk tanah, di daerah Fresnel Zone yang pertama.

3. Berapa elevasi lokasi dari atas permukaan laut dan permukaan tanah?

4. Aapakah ada objek, terutama objek metal, di sekitar antena?

5. Apakah support mekanik untuk antena akan mencukupi?
Kita akan menghadapi tantangan fisik, seperti angin atau hujan yang sangat kuat.

6. Berapa panjang kabel UTP harus dijalankan?
Panjang kabel UTP maksimum sekitar 150 meter. Hal ini dibutuhkan karena kita perlu memasang Access Point di atas tower supaya hanya membutuhkan pigtail pendek satu meter saja ke antena.

7. Bagaimana ke stabilan power supply? Apakah kita membutuhkan Uniterruptable Power Supply (UPS)?

8. Apakah lokasi mudah di akses? Apakah dapat diakses 24 jam? Siapa yang memegang kunci?

9. Apakah system grounding yang ada mencukupi? Perlukan kita menambahkan ground?

HAND HELD GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Tool yang paling menolong pada saat site survey adalah sebuah hand held Global Positioning System (GPS). Secara umum tampilan beberapa GPS adalah sebagai berikut : Halaman pertama yang akan kita lihat di GPS adalah satelit GPS yang terlihat di angkasa, termasuk kekuatan signalnya. Biasanya minimal kita membutuhkan tiga buah satelit GPS yang harus terlihat untuk menentukan posisi. Jika kita dapat melihat cukup banyak satelit, peralatan GPS dapat menentukan posisi dan ketinggian kita. Untuk memperoleh informasi ketinggian yang lebih akurat, sangat disarankan menggunakan peralatan GPS yang mempunyai altimeter di dalamnya.

Pada halaman selanjutnya pada GPS, kita masuk ke Map View. Pada halaman ini, kita dapat melihat peta dua dimensi. Map View dirancang untuk melakukan navigasi, tidak ada informasi elevasi dan topologi di dalamnya. Paling tidak kita dapat mengira-ngira arah lokasi peta yang ada.

SOFTWARE SITE SURVEY DI PC

Walaupun tidak memiliki Spectrum Analyzer bagi kita di negara berkembang bukanlah sebuah penghambat. Kita biasa menggunakan laptop dengan WLAN Card untuk fungsi site survey.

Salah satu software favorit untuk melakukan site survey di PC adalah NetStumbler. Software ini dapat diambil secara gratis di http://www.netstumbler.com

Site NetStumbler http://www.netstumbler.com juga menghosting hasil scanning rekan-rekan di seluruh dunia tentang hotspot yang gratisan di sekitar mereka. Dengan cara itu kita jadi bisa akses internet gratis di mana-mana.

NetStumbler akan melaporkan :
1. MAC Address Access Point dan frekuensi operasinya
2. Catat tipe peralatan yang digunakan di Access Point
3. Catat channel yang digunakan di Access Point
4. Catat ESSID Access Point, jika di broadcast
5. Catat nama Access Point, jika di broadcast
6. Catat kekuatan sinyal yang diterima dari Access Point, berikan tanda dengan warna hijau jika baik, dan kuning jika kurang baik.
7. Catat tingkat/level noise.
8. Catat perbandingan sinyal terhadap noise. Kita berusaha agar memperoleh perbandingan semaksima mungkin.

Dengan menekan MAC Address dari Access Point tertentu, kita dapat melihat hasil rekaman tingkat sinyal Access Point yang diterima oleh card. Kita dapat menyimpan sejarah sinyal untuk periode tertentu. Teknik pengukuran ini sangat bermanfaat pada saat :
1. Mengarahkan antena
2. Cek apakah ada masalah dengan konektor yang kita gunakan
3. Tingkat noise yang tinggi menandakan adanya sumber interferensi dekat kita.

Pada saat survei, umumnya kita akan menggunakan antena omni atau antena directional. Kita perlu mengarahkan antena tersebut ke beberapa arah, men-scan channel yang ada, baik untuk polarisasi vertikal maupun horizontal. Semua harus dilakukan untuk melihat kemungkinan terjadinya interferensi di jaringan komunikasi kita.

Kesulitasn utama yang biasanya akan kita hadapi dengan ketiadaan spectrum analyzer adalah ketidak mampuan melihat apa yang akan terjadi pada frekuensi. Card WLAN yang kita miliki biasanya hanya dapat memonitor mereka yang memancar dengan protocol IEEE 802.11. Kita hanya dapat mengestimasi keadaan melalui besarnya noise yang diterima oleh card.

Bagi mereka yang ingin membeli software komersial untuk keperluan site survey, cukup banyak di internet. Salah satunya adalah WNC yang dapat diambil dari http://www.cirond.com/winc.php.

TEKNIK MENGATASI INTERFERENSI

Pada operasional infrastruktur WIFI di outdoor, salah satu tantangan yang cepat atau lambat tapi pasti akan kita hadapi bersama adalah berkurangnya throughput, karena tingginya interferensi dan noise.

Sinyal yang kuat tidak cukup menjamin reliabilitas pada sebuah penerima wireless broadband. Sinyal level harus secara konsisten jauh lebih besar dari pada noise yang diterima di penerima. Dengan kata lain, perbandingan antara sinyal kepada noise, Signal To Noise Ratio (SNR) harus setinggi mungkin. Untuk memperoleh SNR yang tinggi, ada dua kondisi yang harus penuhi sekaligus, yaitu :

1. Sinyal yang diterima oleh pesawat penerima harus lebih tinggi dari sensifitas penerima.

2. Level noise di input penerima harus lebih rendah dari sinyal yang masuk. Noise didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bukan sinyal yang kita inginkan”.

Gagal memenuhi kedua kondisi tersebut akan menyebabkan SNR yang rendah.

MEMAKSIMALKAN LEVEL SINYAL YANG DITERIMA

Kita sebetulnya mempunyai kemampuan mengontrol secara langsung proses untuk memaksimalkan sinyal yang diterima. Beberapa prosedur standar yang biasa digunakan adalah :

1. Link Budget – daya pancar yang cukup, sensifitas penerima, fade margin, dan penguatan antena yang cukup untuk mengatasi loss di kabel coax dan free space.

2. Line Of Sight (LOS) – jalur LOS harus tanpa hambatan/penghalang dari ujung ke ujung.

3. Fresnel Zone – harus cukup daerah yang bebas tidak ada halangan.

4. Installation – yakinkan antena dipasang dengan aman dan benar, arah yang benar, konektor yang diisolasi tahan air, menggunakan konektor dan coax yang baik.

MEMINIMALISASI INTERFERENSI DAN NOISE

Kita biasanya tidak punya kemampuan mengatur/mengontrol sumber noise atau interferensi. Beberapa sumber noise adalah :
1. Natural noise – noise dari atmosfir dan galaksi.

2. Manmade noise – sinyal RF yang diambil dari antena. Termasuk microwave oven, telepon cordless dan indoor WIFI serta beberapa peralatan medical/kedokteran.

3. Receiver noise – noise yang dihasilkan oleh rangkaian internal penerima.

4. Interferensi dari jaringan lain – interferensi yang disebabkan oleh jaringan wireless lain yang bekerja pada band yang sama.

5. Interferensi dari jaringan kita sendiri – terjadi jika kita menggunakan frekuensi yang sama lebih dari satu kali, menggunakan channel yang tidak mempunyai cukup jarak/spasi antar channelnya, atau menggunakan urusan frekuensi hopping yang tidak benar.

6. Interferensi dari sinyal out-of-band – disebabkan oleh sinyal yang kuat di luar frekuensi band yang kita gunakan, misalnya, pemancar AM, FM atau TV, pager dan radio CB.

STRATEGI MENGALAHKAN INTERFERENSI

Beberapa strategi yang biasa digunakan untuk mengalahkan interferensi adalah :

1. Gunakan antena sektoral atau antena pengarah/narrow beam dengan penguatan tinggi. Biasanya sangat effektif mengurangi interferensi, terutama di daerah yang spectrum-nya sangat padat sekali.

2. Gunakan jalur-jalur yang pendek, jangan berusaha membangun sambungan jarak jauh.

3. Pilih frekuensi yang tidak banyak digunakan oleh stasiun lain.

4. Ubah/ganti polarisasi antena.

5. Atur azimuth antena.

6. Ubah lokasi peralatan / antena.

Jangan pernah menggunakan amplifier untuk melawan interferensi. Anda hanya akan mengobarkan rasa dengki di antara pengguna wireless lain, jika anda menggunakan amplifier.

Sumber Referensi :
1. Onno W. Purbo, Buku Pegangan Internet Wireless dan Hotspot, Elex Media Komputindo, 2006.
2. Jasakom e-learning, Wireless Kung Fu: Networking dan Hacking, Jasakom, 2007.
3. William Stallings, Komunikasi Data da Komputer: Dasar-dasar Komunikasi Data, Prentice Hall, 2000.

Teknik Site Survey dan Mengatasi Interferensi

Site Survey adalah teknik mengsurvei kondisi sebuah tempat untuk menyiapkan sebuah site untuk instalasi peralatan radio. Salah satu dokumentasi yang baik tentang prosedur site survey dapat dilihat dari Waverider Site Survey Guide, Waverider Document No. 9902/VAR002 tertanggal 29 Desember 1998. Waverider http://www.waverider.com adalah sebuah perusahaan yang berbasis di Toronto Canada.

Peralatan untuk Melakukan Site Survey

Daftar peralatan yang perlu dibawa untuk Site Survey adalah :

1. Spectrum Analyzer (3GHz), jika ada. Spectrum Analyzer adalah sebuah peralatan yang paling membantu seorang surveyor untuk melihat kondisi lapangan. Sayangnya, sebuah spectrum analyzer yang baik harganya sangat mahal dan kemungkinan tidak akan terjangkau bagi kita yang berada di negara berkembang. Untuk solusi yang terjangkau, mungkin menggunakan card Teletronics dengan software-nya yang cukup baik digunakan sebagai spectrum analyzer di frekuensi 2.4GHz. Harga card sekitar US$100 dengan sebuah pigtail yang disambungkan ke antena eksternal. Banyak wireless ISP komersial menggunakan ini untuk alat site survey mereka.

2. Laptop dengan PCMCI WLAN card adalah solusi paling murah yang mungkin paling terjangkau untuk negara berkembang. Beberapa tool untuk melakukan survey di PC telah tersedia di internet.

3. Beberapa WLAN Access Point mempunyai kemampuan melakukan site survey jika diset pada mode client. Mode ini sangat bermanfaat dalam mengarahkan antena, dll.

4. Sekumpulan antena eksternal, omnidirectional antena dan directional antena termasuk pigtail dan berbagai konektor.

5. Senter yang kuat, Strobe Light, Flashflight, Cermin, Kekeran/teropong atau Telescope. Sangat baik mengevaluasi kondsi Optical Line Of Sight antar dua titik.

6. Meteran, minimum 10m.

7. Peta topography skala 1:50,000 atau yang lebih baik lagi. Mungkin kita akan memperoleh kesulitan memperoleh peta topography yang akurat dan up-to-date. Untuk sambungan-sambungan jarak pendek s/d 5-8 km kadang kala kita tidak memerlukan peta topography tersebut.

8. Hand-held GPS atau kompas. GPS adalah alat yang paling berharga pada saat melalukan site survey. Perlu di sadari, GPS memerlukan kondisi cuaca cerah, tidak ada halangan di atas kita dan waktu lama untuk memperoleh ketelitian yang maksimum.

9. Altimeter atau pengukur ketinggian. Hal ini kadang-kadang tidak diperlukan jika kita menggunakan GPS yang baik, seperti GARMIN eTrex Vista.

10. Safety hat.

11. Tangga.

Beberapa Pertanyaan pada Saat Site Survey

1. Koordinat geografis dari tempat antena?
GPS sangat bermanfaat untuk menentukan koordinat site termasuk menentukan jarak antar kedua tempat. Akan tetapi untuk jarak yang sangat pendek, biasanya dapat di estimasi tanpa menggunakan GPS.

2. Apakah antar antena sudah Line Of Sight?
Kita harus dapat memastikan bahwa tidak ada penghalang, termasuk tanah, di daerah Fresnel Zone yang pertama.

3. Berapa elevasi lokasi dari atas permukaan laut dan permukaan tanah?

4. Aapakah ada objek, terutama objek metal, di sekitar antena?

5. Apakah support mekanik untuk antena akan mencukupi?
Kita akan menghadapi tantangan fisik, seperti angin atau hujan yang sangat kuat.

6. Berapa panjang kabel UTP harus dijalankan?
Panjang kabel UTP maksimum sekitar 150 meter. Hal ini dibutuhkan karena kita perlu memasang Access Point di atas tower supaya hanya membutuhkan pigtail pendek satu meter saja ke antena.

7. Bagaimana ke stabilan power supply? Apakah kita membutuhkan Uniterruptable Power Supply (UPS)?

8. Apakah lokasi mudah di akses? Apakah dapat diakses 24 jam? Siapa yang memegang kunci?

9. Apakah system grounding yang ada mencukupi? Perlukan kita menambahkan ground?

HAND HELD GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Tool yang paling menolong pada saat site survey adalah sebuah hand held Global Positioning System (GPS). Secara umum tampilan beberapa GPS adalah sebagai berikut : Halaman pertama yang akan kita lihat di GPS adalah satelit GPS yang terlihat di angkasa, termasuk kekuatan signalnya. Biasanya minimal kita membutuhkan tiga buah satelit GPS yang harus terlihat untuk menentukan posisi. Jika kita dapat melihat cukup banyak satelit, peralatan GPS dapat menentukan posisi dan ketinggian kita. Untuk memperoleh informasi ketinggian yang lebih akurat, sangat disarankan menggunakan peralatan GPS yang mempunyai altimeter di dalamnya.

Pada halaman selanjutnya pada GPS, kita masuk ke Map View. Pada halaman ini, kita dapat melihat peta dua dimensi. Map View dirancang untuk melakukan navigasi, tidak ada informasi elevasi dan topologi di dalamnya. Paling tidak kita dapat mengira-ngira arah lokasi peta yang ada.

SOFTWARE SITE SURVEY DI PC

Walaupun tidak memiliki Spectrum Analyzer bagi kita di negara berkembang bukanlah sebuah penghambat. Kita biasa menggunakan laptop dengan WLAN Card untuk fungsi site survey.

Salah satu software favorit untuk melakukan site survey di PC adalah NetStumbler. Software ini dapat diambil secara gratis di http://www.netstumbler.com

Site NetStumbler http://www.netstumbler.com juga menghosting hasil scanning rekan-rekan di seluruh dunia tentang hotspot yang gratisan di sekitar mereka. Dengan cara itu kita jadi bisa akses internet gratis di mana-mana.

NetStumbler akan melaporkan :
1. MAC Address Access Point dan frekuensi operasinya
2. Catat tipe peralatan yang digunakan di Access Point
3. Catat channel yang digunakan di Access Point
4. Catat ESSID Access Point, jika di broadcast
5. Catat nama Access Point, jika di broadcast
6. Catat kekuatan sinyal yang diterima dari Access Point, berikan tanda dengan warna hijau jika baik, dan kuning jika kurang baik.
7. Catat tingkat/level noise.
8. Catat perbandingan sinyal terhadap noise. Kita berusaha agar memperoleh perbandingan semaksima mungkin.

Dengan menekan MAC Address dari Access Point tertentu, kita dapat melihat hasil rekaman tingkat sinyal Access Point yang diterima oleh card. Kita dapat menyimpan sejarah sinyal untuk periode tertentu. Teknik pengukuran ini sangat bermanfaat pada saat :
1. Mengarahkan antena
2. Cek apakah ada masalah dengan konektor yang kita gunakan
3. Tingkat noise yang tinggi menandakan adanya sumber interferensi dekat kita.

Pada saat survei, umumnya kita akan menggunakan antena omni atau antena directional. Kita perlu mengarahkan antena tersebut ke beberapa arah, men-scan channel yang ada, baik untuk polarisasi vertikal maupun horizontal. Semua harus dilakukan untuk melihat kemungkinan terjadinya interferensi di jaringan komunikasi kita.

Kesulitasn utama yang biasanya akan kita hadapi dengan ketiadaan spectrum analyzer adalah ketidak mampuan melihat apa yang akan terjadi pada frekuensi. Card WLAN yang kita miliki biasanya hanya dapat memonitor mereka yang memancar dengan protocol IEEE 802.11. Kita hanya dapat mengestimasi keadaan melalui besarnya noise yang diterima oleh card.

Bagi mereka yang ingin membeli software komersial untuk keperluan site survey, cukup banyak di internet. Salah satunya adalah WNC yang dapat diambil dari http://www.cirond.com/winc.php.

TEKNIK MENGATASI INTERFERENSI

Pada operasional infrastruktur WIFI di outdoor, salah satu tantangan yang cepat atau lambat tapi pasti akan kita hadapi bersama adalah berkurangnya throughput, karena tingginya interferensi dan noise.

Sinyal yang kuat tidak cukup menjamin reliabilitas pada sebuah penerima wireless broadband. Sinyal level harus secara konsisten jauh lebih besar dari pada noise yang diterima di penerima. Dengan kata lain, perbandingan antara sinyal kepada noise, Signal To Noise Ratio (SNR) harus setinggi mungkin. Untuk memperoleh SNR yang tinggi, ada dua kondisi yang harus penuhi sekaligus, yaitu :

1. Sinyal yang diterima oleh pesawat penerima harus lebih tinggi dari sensifitas penerima.

2. Level noise di input penerima harus lebih rendah dari sinyal yang masuk. Noise didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang bukan sinyal yang kita inginkan”.

Gagal memenuhi kedua kondisi tersebut akan menyebabkan SNR yang rendah.

MEMAKSIMALKAN LEVEL SINYAL YANG DITERIMA

Kita sebetulnya mempunyai kemampuan mengontrol secara langsung proses untuk memaksimalkan sinyal yang diterima. Beberapa prosedur standar yang biasa digunakan adalah :

1. Link Budget – daya pancar yang cukup, sensifitas penerima, fade margin, dan penguatan antena yang cukup untuk mengatasi loss di kabel coax dan free space.

2. Line Of Sight (LOS) – jalur LOS harus tanpa hambatan/penghalang dari ujung ke ujung.

3. Fresnel Zone – harus cukup daerah yang bebas tidak ada halangan.

4. Installation – yakinkan antena dipasang dengan aman dan benar, arah yang benar, konektor yang diisolasi tahan air, menggunakan konektor dan coax yang baik.

MEMINIMALISASI INTERFERENSI DAN NOISE

Kita biasanya tidak punya kemampuan mengatur/mengontrol sumber noise atau interferensi. Beberapa sumber noise adalah :
1. Natural noise – noise dari atmosfir dan galaksi.

2. Manmade noise – sinyal RF yang diambil dari antena. Termasuk microwave oven, telepon cordless dan indoor WIFI serta beberapa peralatan medical/kedokteran.

3. Receiver noise – noise yang dihasilkan oleh rangkaian internal penerima.

4. Interferensi dari jaringan lain – interferensi yang disebabkan oleh jaringan wireless lain yang bekerja pada band yang sama.

5. Interferensi dari jaringan kita sendiri – terjadi jika kita menggunakan frekuensi yang sama lebih dari satu kali, menggunakan channel yang tidak mempunyai cukup jarak/spasi antar channelnya, atau menggunakan urusan frekuensi hopping yang tidak benar.

6. Interferensi dari sinyal out-of-band – disebabkan oleh sinyal yang kuat di luar frekuensi band yang kita gunakan, misalnya, pemancar AM, FM atau TV, pager dan radio CB.

STRATEGI MENGALAHKAN INTERFERENSI

Beberapa strategi yang biasa digunakan untuk mengalahkan interferensi adalah :

1. Gunakan antena sektoral atau antena pengarah/narrow beam dengan penguatan tinggi. Biasanya sangat effektif mengurangi interferensi, terutama di daerah yang spectrum-nya sangat padat sekali.

2. Gunakan jalur-jalur yang pendek, jangan berusaha membangun sambungan jarak jauh.

3. Pilih frekuensi yang tidak banyak digunakan oleh stasiun lain.

4. Ubah/ganti polarisasi antena.

5. Atur azimuth antena.

6. Ubah lokasi peralatan / antena.

Jangan pernah menggunakan amplifier untuk melawan interferensi. Anda hanya akan mengobarkan rasa dengki di antara pengguna wireless lain, jika anda menggunakan amplifier.

Sumber Referensi :
1. Onno W. Purbo, Buku Pegangan Internet Wireless dan Hotspot, Elex Media Komputindo, 2006.
2. Jasakom e-learning, Wireless Kung Fu: Networking dan Hacking, Jasakom, 2007.
3. William Stallings, Komunikasi Data dan Komputer: Dasar-dasar Komunikasi Data, Prentice Hall, 2000.