Harapan


Pagi ini begitu cerah di Ibukota, matahari sudah menampakan cahayanya yang putih. Jalan-jalan sudah dipenuhi kendaraan seperti semut yang berjalan beriring-iringan. Dengan sedikit berloncat, Tengku turun dari biskota yang berjalan pelan dan tidak mau berhenti.

“Kurang ajar”. Dalam hatinya berkata. “Padahal aku turun di halte, masih tetap disuruh loncat. Memang sopir tak tahu diri”. umpatnya.

Dengan langkah segan karena kurang tidur tadi malam, Tengku berjalan menuruni tangga menuju kantor. Dia harus bergadang menemani putrinya yang sedang kurang sehat. Kondisinya sudah lumayan membaik. Kemarin malam dia mengantar putrinya ke dokter, badannya panas, tidak mau makan dan muntah-muntah. Menurut dokter kena flu biasa, tapi bagi seorang Tengku yang mengasuh anaknya seorang diri, seringan apapun penyakit yang diderita putrinya tetap saja akan menjadi masalah baginya.

Kantor Tengku terletak di rumah susun yang terletak di pusat kota Jakarta. Letak yang cukup strategis, tetapi bagi sebagian orang tidak bisa dibilang kantor, karena hanya satu kamar. Ada 3 orang yang bekerja di perusahaan itu. 3 Orang yang sudah mencoba peruntungannya di perusahaan lain yang formil, tetapi karena belum bernasib baik, belum ada yang menerima. Akhirnya hanya kantor inilah yang mau menampung.

“Selamat pagi pak Tengku”, sapa mbak Titi. mbak Titi adalah tetangga sebelah kantor. dia berjualan makanan dan minuman. Kedainya cukup ramai, bukan karena rasa masakannya yang enak, tetapi karena pembeli ingin melihat sosoknya yang selalu berpakai minimalis. Dengan tinggi badan sekitar 155cm, mbak titi kelihatan mungil, Tetapi jika dilihat dari samping, akan tampak susu dan buntutnya yang menonjol. Itulah saat yang ditunggu-tunggu pembeli yang mampir ke kedainya.

“Pagi juga mbak”, sapa Tengku dengan ramah. “Mbak kelihatan manis sekali pagi ini”, Wajahnya memerah tersipu-sipu. Mbak Titi memang naksir berat dengan Tengku. Walaupun usianya terpaut sekitar 7 tahun lebih muda dari dirinya. Dengan kondisi badannya, dia yakin masih sanggup menaklukkan Tengku yang muda dan atletis.

“Gimana anak loh, udah baikan?” tanya Sidik kawan kantornya setelah dilihatnya Tengku masuk ke dalam kantor. “Lumayanlah, yang penting dia sudah bisa makan dan panasnya turun. Kalau panasnya gak turun, gue takut dia step”.

“Bos ada datang kemarin?” tanya Tengku pada Sidik untuk mengalihkan pembicaraan, karena dia tak suka kalau ada orang yang menanyakan hal-hal pribadinya.

“Tak ada, hanya telepon aja. Dia nanyain eloh udah ke empat sekawan belum. Kalau belum eloh disuruh ke sana.”

“Belum, 2 hari yang lalu gue telepon dia nya tak bisa. Rencananya kemarin janjian mau ketemu. Tapi kemarin gue gak bisa datang, anak gue sakit. Jam setengah sembilan nanti gue telepon lagi”, papar Tengku.

“Gue juga sudah bilang sama bos kalau anak loh sakit, makanya dia minta hari ini eloh temuin.” Sidik coba menjelaskan.

“Solihin datang tak hari ini Dik? Gue mau suruh dia ketik surat pemberitahuan buat Selaras”, tanya Tengku.

“Datang mungkin siang, kalau memang mendesak biar gue aja yang ketikin suratnya” Sidik menawarkan diri.

“Boleh, kalau gitu gue tulisin dulu konsep suratnya. Pemberitahuan minggu depan mau diadakan instalasi sistem, kalau sudah jalan sistemnya supaya bisa kita tagih. Buat gajian kita bulan ini” papar Tengku.

“Memangnya aplikasinya sudah jadi?” tanya Sidik. “Sudah, kemarin Taufik telepon gue ngasih tahu kalau programnya sudah siap untuk diinstalasi.”

Samudra adalah nama perusahaan dan kantor tempat mereka kerja. Sebuah kantor kecil yang dimodali oleh sepasang suami istri. Si suami merupakan salah seorang pejabat penting di pemerintahan. Selain sebagai pimpinan, bos juga bertugas untuk melobi supaya tetap ada kerjaan. Sedangkan sang istri bekerja sebagai sekretaris direktur di perusahaan asing yang cukup ternama di Jakarta. Alasan mendirikan perusahaan untuk persiapan pensiun, Sebuah alasan yang tidak diperdulikan oleh Tengku dan kawan-kawannya, bagi mereka yang penting bisa bekerja dan mendapatkan uang.

Tengku mengambil sehelai kertas bekas yang halaman belakangnya masih kosong. Siap menulis konsep surat, diserahkan ke Sidik. 3 buah komputer tua dan 1 buah multi fungsi printer deskjet, scaner dan fax masih menjadi andalan mereka.

Dengan sarana yang terbatas, mereka tetap bekerja dengan semangat. Karena mereka sepenuhnya sadar, bahwa perusahaan ini adalah bagian dari hidup mereka. Jika perusahaan itu tutup, tidak tahu harus kemana lagi.

“Sudah selesai ni Ku, periksa dulu. Kalau sudah eloh tanda tangan nanti gue fax”.

Tengku memeriksa surat yang diketik Sidik. Perlahan dibaca kembali susunan katanya. Dalam hal ini Tengku memang berhati-hati, karena dia sadar kesalahan sedikit saja bisa berdampak besar. Maklum perusahaannya tempat bekerja adalah perusahaan kecil yang hanya dipandang sebelah mata oleh klien nya.

“Nih sudah gue tanda tangan, eloh telepon lagi nanti konfirmasi kalau kita sudah kirim fax ya”.

“Beres”, jawab Sidik.

Kemudian sidik mengefax-kan surat itu. Selaras adalah sebuah perusahaan periklanan yang berlokasi di Gedung Megah di Jalan Sudirman. Di pimpin oleh seorang direktris yang masih muda dan penuh percaya diri. Walaupun terhitung perusahaan kecil, tapi sang direktris berani mengambil resiko untuk menyewa ruangan yang terbilang cukup mahal harga sewanya.

Perusahaan itu memesan sebuah sistem akuntansi dari tempat Tengku. Sengaja memilih Samudra karena biaya yang ditawarkan oleh Tengku untuk sebuah sistem akuntansi lengkap sangatlah murah. Untuk kualitas sistem, tentu saja Tengku tidak mau main-main. Dia menerapkan sebuah standar kualitas sistem yang cukup tinggi dan ketat.

Disamping 3 orang karyawan tetap, Samudra juga memperkerjakan 10 orang progammer lepas. Yang menjadi sistem analis nya adalah Tengku. Dengan berbekal pengalaman 5 tahun sebagai progammer, keahlian Tengku cukup untuk menjadi seorang analis sekaligus manajer proyek.

“Selamat siang buk, kami dari Samudra baru saja mengirimkan fax untuk Pak Andri, apa sudah diterima dengan baik?”, suara Sidik menelepon.

Sementara Tengku sedang serius mencoba sistem akuntansi yang kemarin sudah dikirim oleh Taufik lewat email.

“Kok jadi banyak perubahan-perubahan gini sich”, Tengku berguman sendiri.

“Seharusnya kalau ada permintaan-permintaan seperti ini Taufik harus ngasih tahu gue, jangan semua keinginan Selaras diikutin, bisa jadi membengkak programnya. Kalau gitu harganya bisa berubah”, lanjut Tengku berguman sendiri.

“Sory Ku, gue lupa ngasih tahu. Taufik sudah telepon minta ijin penambahan-penambahan fungsi budgeting, permintaan dari Selaras. Dan gue sudah kasih ijin”, Sidik langsung menanggapi setelah selesai menutup teleponnya.

“Ya sudah kalau eloh sudah kasih ijin, lain kali bilang dulu ke gue, kasihan si Taufik kalau permintaan Selaras terus-terusan kita penuhi, karena honor dia tetap walaupun programmnya jadi membengkak gini”, Tengku menjelaskan.

“Sebelumnya gue juga sudah tanya ke Taufik, kira-kira sanggup gak dia ngerjain. Kalau gak sanggup gue suruh dia telepon ke eloh”, papar Sidik.

“Ya sudahlah, gimana Selaras, bisa hari senin depan kita instalasi? tanya Tengku pada Sidik.

“Bisa, jam 9 mereka tunggu. Kalau bisa jangan lama-lama, karena senin itu jam 11 mereka ada pertemuan dengan klien mereka”.

“Bagus lah kalau gitu”, Tengku menutup pembicaraan.

Tak terasa, matahari sudah diatas kepala. Kantor yang memang tidak ada ac dan kipas anginnya, sudah menunjukan geliat panasnya. Tengku masih asik membuat standar operasional prosedur untuk Empat Sekawan.

Empat Sekawan adalah anak perusahaan sebuah bank terkenal di Indonesia. Bergerak dalam bidang jasa untuk mensuport induk perusahaan. Jumlah karyawan tetapnya sekitar 30 orang. Direksi Empat Sekawan berencana untuk melakukan re-organisasi untuk mengantisipasi perubahan bisnis kedepan. Perusahaan itu hendak melakukan ekspansi usaha sehingga tidak tergantung kepada perusahaan induk, Untuk itu meminta jasa Samudra untuk melakukan evaulasi kinerja sekaligus merancang struktur organisasi dan lengkap dengan sistemnya.

Nilai proyek ini yang cukup besar. Namun karena proyek ini merupakan proyek penyelamatan, maka Samudra hanya mendapatkan sepertiga dari nilai kontrak yang sebenarnya. Bos Samudra nekat mengambil karena memang sedang butuh proyek untuk menutupi cash flow perusahaan.

Perut Taufik mulai terasa minta diisi, namun dia tetap menahan rasa laparnya dengan meminum teh manis. Uangnya tinggal tersisa untuk ongkos pulang, habis untuk biaya berobat anaknya kemarin.

Sidik yang baru saja kembali dari kantin mbak Titi. Dilihatnya Taufik masih asik di depan komputer.

“Ku, eloh gak makan”, tanya Sidik.

“Tak, gue lagi gak punya duit”, jawab Tengku

“Ngutang aja dulu sama mbak Titi, atau eloh kedipin aja pakai sebelah mata, dijamin eloh dapat makan gratis”, papar Sidik sambil tertawa.

“Ha ha ha….”, Tengku pun ikut tertawa.

“Emangnya eloh mau lihat gue dibawain parang sama lakinya”.

“Lakinya datang 1 minggu sekali. Yang 6 harinya kan kosong, lakinya gak bakalan tahu, sama-sama saling memberi. Dia kasih eloh makanan jasmani, eloh kasih dia makanan rohani.”

“Gila kali loh ya, sudahlah gue mau sholat dulu”.

Tengku beranjak ke kamar mandi yang terletak di samping meja komputernya. Setiap rumah, yang besarnya seukuran kamar, masing-masing disediakan kamar mandi.

Selesai sholat Tengku langsung berdo’a. Baginya, inilah saat yang paling membuatnya tenang. Dia dapat mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pencipta atas segala cobaan hidup yang dialaminya. Sebelum bekerja di Samudra, Tengku bekerja di sebuah perusahaan otomotif yang terkenal di Indonesia. Karena persoalan rumah tangga yang kunjung usai yang berakhir pada perginya sang istri, Tengku mengundurkan diri, agar dapat berkonsentrasi mengurus dan merawat putrinya. Walaupun standar gaji yang diterima sekarang berada dibawah tempat bekerja sebelumnya, tetapi Tengku cukup puas karena dia dapat dengan fleksibel mengatur waktu untuk putrinya. Kapan saja dia ingin pulang atau tak masuk kerja, perusahaan tak komplain asal pekerjaannya selesai.

“Dari mana aja loh”, tanyanya kepada Solihin. Dilihatnya Solihin sedang asyik merokok.

“Anak gue sakit buang-buang air, tadi gue ngantar ke puskesmas”, jawab Solihin.

“Kenapa eloh tinggal?”

“Habis minum obat, sudah gak buang-buang air lagi, makanya sudah bisa gue tinggal, lagian bini gue ada di rumah biar dia aja yang ngurusin”, jawab Solihin.

“Gue ingat mau nyelesain ketikan Empat Sekawan makanya gue dateng”. Solihin menambahkan.

“Gue mau balik cepat, ngantuk”

“Sidik kemana?” tanya Solihin karena sejak dia datang Sidik tak dilihatnya.

“Tak tahu, tadi ada. Mungkin disebelah”, jawab Tengku.

“Iya lah, klo gitu eloh balik aja, Klo ada yang telepon kan ada Sidik”, papar Solihin.

Tengku berjalan menuju halte bis yang cukup jauh letaknya. Disamping jauh, dia pun harus menaiki tangga penyebarangan yang cukup tinggi. Semua itu dilalui nya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran karena percaya hari esok selalu masih ada harapan.

Indra Sufian, Kepulauan Riau, 1 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: