6 Bulan


Handphone mungil warna pink itu bergetar, kemudian terdengar lagu ungu kesukaannya.

Dengan cepat tika mengambil handphonenya. Dilihat di layar tertulis nama SolihinBB. Segera ditekannnya tombol ok untuk menerima sambungan telepon tersebut.

“Selamat siang Pak Solihin, apa kabar?” Sapanya dengan nada lembut dan sedikit manja.

“Selamat siang juga dik Tika. Baik, kabar saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar Dik Tika?”

“Alhamdulillah baik Pak Solihin. Bagaimana pak, apa yang bisa saya bantu?”

“Begini Dik Tika, saya sudah membaca e-mail yang Dik Tika kirim 1 minggu yang lalu. Mohon maaf baru tadi pagi saya sempat membaca. Dan saya tertarik dengan penawaran yang dari Dik Tika. Kalau Dik Tika ada waktu, bagaimana kalau kita bertemu sebentar sekalian makan siang sama.”

“Dengan senang hati Pak Solihin, mau ketemu dimana ya Pak? Dan mohon maaf Pak Solihin, kalau tempatnya agak jauh saya tak ada kendaraan”.

“Kita makan dekat-dekat sini saja. Dik Tika tunggu di depan kantor, biar nanti saya jemput saja. Bagaimana?”

“Baik Pak Solihin, terima kasih Pak. Saya akan tunggu di depan kantor.”

“Ok, ditunggu 15 menit lagi ya Dik, selamat siang”.

“Baik Pak, 15 menit lagi saya tunggu di depan kantor. terima kasih, selamat siang Pak Solihin”.

Dengan perasaan gembira, Tika menekan tombol untuk mematikan pembicaraan di handphonenya. Sambil tersenyum, Tika membayangkan jika penawarannya di terima, maka bonus akhir tahun yang akan diterimanya.

“Wah bisa jalan-jalan ke Bali nich”, katanya dalam hati.

Tika bekerja sebagai account officer di perusahaan seluler yang baru mulai berdiri. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dikuasai oleh asing. Tentu saja hal ini akan menjadi terobosan besar bagi perusahaan, lebih-lebih bagi dirinya.

Cepat-cepat Tika pergi ke toilet untuk berias. “Biar wajahku kelihatan segar”, ujarnya pelan.

Sedari tadi Toni nampak memperhatikan Tika dari tempat kerjanya. Diam-diam Toni menaruh minat pada Tika. Pria beranak satu ini memang kesepian sejak pindah kerja dan mendapat tugas di Sumatra. Anak dan Istrinya ditinggal di rumah orang tuanya di Jawa. Karena baru pertama kali mendapatkan kerjaan di luar Jawa, dia tak berani mengajak anak dan istrinya langsung ikut pindah. “Biar mas saja yang dulu pindah, nanti kalau mas sudah dapat rumah dan sudah tahu situasinya baru mas ajak lastri dan irwan”, katanya kepada lastri.

Enam bulan yang lalu, kata-kata itu disampaikan kepada istrinya. Kata-kata itu sekarang hampir sudah tidak diingatnya lagi. Yang terpikir saat ini kata-kata bagaimana supaya lastri tetap tinggal di rumah orang tuanya dan tidak ada keinginan untuk menyusulnya.

Dada Toni terasa panas melihat Tika tersenyum-senyum sendiri setelah menerima telepon. Tika karyawan baru, Toni sendiri yang mengajak dan menawarkan Tika kerja di tempatnya.

Perasaan aneh timbul saat pertama kali melihat dan berjumpa dengan Tika di Pusat perbelanjaan. Saat itu Toni hendak membeli parfum, dengan sabar Tika melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan konyol dan menggoda, tetapi tidak ada sedikit pun terlihat nada atau wajah sebel dan marah dari Tika.

“Mau kemana Tika?” tanya Toni kepada Tika yang dilihatnya sedang merapikan meja kerjanya.

“Ada client yang mau ketemu sekalian mengajak makan siang Pak”, jawab Tika sambil mematikan komputer di meja kerjanya.

“Kok kamu gak ada cerita atau lapor ke saya? Siapa client itu?”

“Pak Solihin pak, dari PT. Andalan, perusahaan galangan kapal. Saya minta maaf Pak, baru saja ditelepon. Sebelum berangkat, saya juga ingin melapor ke bapak.” Jawabnya pelan dengan perasaan bersalah.

Dengan tegas Toni berkata, “Kamu tidak boleh pergi sendiri, apalagi sekalian makan siang”.

“Jadi bagaimana ini Pak? Apa perlu saya telepon ke Pak Solihin kalau saya harus dikawankan?” tanya Tika tetap dengan nada pelan.

“Gak perlu, ya sudah kamu boleh pergi. Tapi untuk yang lain kali kalau mau buat janji dengan client, lapor dan minta ijin dulu pada saya.”

“Baik pak, terima kasih pak.” jawab Tika.

“Kalau begitu saya permisi dulu pak.” Kata Tika.

Dengan perasaan dan wajah kesal, Toni memandang Tika berjalan keluar. Timbul rasa sesalnya, kenapa dia dulu cepat-cepat menikah dengan Lastri, karena dilihatnya Tika jauh lebih cantik, lebih manis, lebih seksi bahkan lebih sabar dari Lastri. “Pokoknya Tika jauh lebih-lebih dari pada Lastri”, dalam hati kecil Toni.

Enam bulan bukan waktu yang lama untuk dapat mengubah perasaan seseorang, dan juga bukan waktu yang singkat untuk seseorang melupakan anak dan istri.

Terdengar bunyi nada lagu ungu dari handphone yang ada di saku Toni. Dilihatnya nama Lastri muncul tertulis di layar.

“Ah, bawel betul perempuan ini. Gak tahu kalau aku lagi kesal”.

Dengan cepat dijawabnya “Mas lagi rapat, kalau sudah gak sibuk mas telepon lagi”. Dan langsung diputuskan pembicaraan di handphone. Sambil bergegas mengambil kunci mobil bersiap-siap mengikuti kemana Tika pergi walaupun harus sembunyi-bunyi dan melupakan anak istri.

Indra Sufian, Kepulauan Riau, 8 Februari 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: